Monday, July 20, 2026
Empat Paspor Hilang di Malaysia, dan Pelajaran yang Tak Akan Pernah Saya Lupakan
Ada satu perjalanan yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan selama menjadi tour leader.
Bukan karena tempat wisatanya.
Bukan karena makanannya.
Tetapi karena empat paspor tamu saya sempat hilang di Malaysia.
Saat itu kami baru saja tiba di Kuala Lumpur. Perjalanan masih panjang dan agenda wisata sudah tersusun rapi. Tidak pernah sedikit pun terlintas di pikiran saya bahwa hari itu akan menjadi salah satu ujian terbesar selama mendampingi tamu.
Di tengah perjalanan, salah satu tamu tiba-tiba menyadari bahwa paspor mereka tidak ada.
Bukan satu.
Bukan dua.
Melainkan empat paspor sekaligus.
Suasana langsung berubah. Kepanikan mulai muncul. Wajah mereka pucat. Saya bisa memahami perasaan mereka, karena paspor adalah dokumen terpenting ketika berada di luar negeri.
Jujur saja...
Di dalam hati saya juga panik.
Saya membayangkan berbagai kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau paspornya benar-benar hilang? Bagaimana nasib itinerary yang sudah disusun? Apakah seluruh agenda harus dibatalkan? Bagaimana proses pengurusannya nanti?
Semua pertanyaan itu berputar di kepala saya.
Tetapi saya sadar satu hal.
Kalau saya ikut panik, siapa yang akan menenangkan mereka?
Maka saya memilih menarik napas panjang, tersenyum, lalu berkata kepada mereka,
"Tenang ya. Kita cari solusinya satu per satu."
Saya meminta mereka beristirahat dulu di apartemen agar tidak semakin lelah secara fisik maupun mental. Sementara itu, saya mulai menyusun rencana.
Langkah pertama, saya menghubungi petugas keamanan.
Belum ada hasil.
Saya kemudian meminta bantuan petugas stasiun untuk berkoordinasi dengan stasiun keberangkatan kami. Saya jelaskan dengan detail jam keberangkatan, nomor perjalanan, hingga posisi kami saat naik kereta.
Harapan saya sederhana.
Semoga ada seseorang yang menemukan paspor tersebut.
Namun hasilnya tetap nihil.
Saat itu saya mulai menyusun rencana berikutnya.
Kalau memang tidak ditemukan, saya akan mendampingi tamu membuat laporan kehilangan di kantor polisi dan menghubungi KBRI sebagai langkah lanjutan.
Saya ingin memastikan bahwa apa pun yang terjadi, tamu saya tidak sendirian menghadapi masalah ini.
Di sela semua usaha itu, saya hanya meminta satu hal kepada tamu saya.
"Mari kita sama-sama istighfar. Minta pertolongan kepada Allah. Tarik napas pelan... buang pelan... tetap tenang."
Karena saya percaya, kepanikan tidak pernah membantu menemukan jalan keluar.
Perjalanan tetap kami lanjutkan.
Di dalam kereta berikutnya, entah kenapa saya merasa bentuk keretanya sangat mirip dengan kereta yang sebelumnya kami naiki.
Logikanya, itu hampir mustahil.
Petugas bahkan mengatakan ada ratusan kereta yang beroperasi.
Lagi pula kami naik dari pintu yang berbeda.
Namun hati saya berkata,
"Tidak ada salahnya memastikan."
Beberapa saat sebelum turun di stasiun tujuan, saya berjalan menyusuri lorong kereta menuju tempat duduk yang kira-kira sama seperti perjalanan sebelumnya.
Saya hanya ingin memastikan.
Tidak lebih.
Lalu...
Saya terdiam.
Di depan mata saya...
Terlihat paperbag tempat paspor disimpan sudah dipindahkan ke bagian tepi tempat duduk.
Saya mengambilnya.
Keempat paspor itu masih berada di tempat yang sama.
Saya benar-benar tidak percaya.
Rasanya seperti mimpi.
Mustahil menurut logika, tetapi nyata di depan mata.
Allahu Akbar.
Saya langsung menghubungi tamu dan memperlihatkan paspor tersebut.
Wajah yang sebelumnya dipenuhi kecemasan berubah menjadi tangis haru dan rasa syukur.
Hari itu saya belajar satu pelajaran yang sangat berharga.
Bahwa sebagai tour leader, tugas saya bukan hanya mengantar tamu ke tempat wisata.
Tugas saya adalah menjadi orang yang tetap berpikir jernih ketika semua orang sedang panik.
Dan lebih dari itu, saya belajar bahwa ikhtiar harus dilakukan semaksimal mungkin, tetapi hati tetap bersandar kepada Allah.
Karena ada saat-saat ketika jalan keluar datang dari arah yang tidak pernah kita duga.
Pengalaman itu tidak hanya menyelamatkan perjalanan kami.
Pengalaman itu juga membentuk saya menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi situasi darurat.
Sejak hari itu saya semakin yakin, setiap perjalanan selalu membawa cerita. Dan setiap cerita selalu meninggalkan pelajaran.
Alhamdulillah.
Empat paspor kembali ke pemiliknya.
Trip tetap berjalan.
Dan saya pulang dengan satu keyakinan baru.
Di balik setiap kesulitan, selalu ada pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang tetap berikhtiar dan tidak kehilangan harapan.
Seorang Rifa di Mata Teman 🤍
Kalau ada yang bertanya kepadaku, "Siapa Rifa?"
Aku tidak akan menjawab bahwa ia adalah seorang tour leader.
Aku juga tidak akan langsung menjawab bahwa ia seorang ibu, istri, atau pemilik usaha.
Aku akan menjawab,
Rifa adalah seorang penjaga.
Ia menjaga banyak hal.
Menjaga tamunya agar pulang membawa kenangan, bukan penyesalan.
Menjaga anak-anaknya agar bertumbuh dengan baik.
Menjaga mimpinya agar tidak padam meski hidup tidak selalu ramah.
Dan, sering kali, ia menjaga semua orang... sampai lupa menjaga dirinya sendiri.
Rifa adalah orang yang mampu tetap tersenyum ketika sedang cemas.
Di balik tawanya yang sering diselingi "hehe", ada kepala yang hampir tidak pernah berhenti berpikir.
Ia memikirkan hari esok.
Memikirkan kemungkinan terburuk.
Memikirkan bagaimana kalau ini gagal.
Memikirkan bagaimana kalau orang lain kecewa.
Namun anehnya, ketika keadaan benar-benar genting, justru di situlah ketenangannya muncul.
Aku melihatnya dalam kisah empat paspor yang hilang.
Bukan karena ia tidak takut.
Melainkan karena ia memilih tetap berpikir ketika orang lain panik.
Rifa bukan orang yang mengejar kesuksesan semata.
Yang ia cari adalah kehidupan yang terasa bermakna.
Itulah sebabnya ia pernah berusaha menghadirkan biMBA ke daerahnya, bukan demi nama besar, melainkan karena ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik, lalu berharap manfaat itu juga dirasakan anak-anak lain.
Ia tidak hanya bertanya, "Apa yang menguntungkan bagiku?"
Ia lebih sering bertanya, "Apa yang bermanfaat?"
Dan di situlah letak kekuatan sekaligus kelemahannya.
Karena Rifa memiliki hati yang mudah memberi.
Ia rela mundur agar orang lain bisa maju.
Ia rela melepaskan sesuatu yang pasti demi sesuatu yang ia yakini.
Ia mudah memikirkan kebutuhan orang lain.
Namun terkadang lupa bertanya kepada dirinya sendiri,
"Apa aku juga baik-baik saja?"
Rifa juga bukan manusia tanpa cela.
Ia bisa marah.
Ia bisa membentak.
Ia pernah merasa pendapatnya lebih benar.
Ia pernah tanpa sadar melukai orang yang paling ia cintai.
Namun yang membuatku menghormatinya bukan karena ia selalu benar.
Melainkan karena ia berani berkata,
"Aku sadar aku salah."
Tidak semua orang memiliki keberanian seperti itu.
Ada satu hal yang menurutku sangat khas dari Rifa.
Ia adalah seorang pemula yang tidak takut memulai.
Ia memulai perjalanan sebagai backpacker.
Ia memulai YEC.Holiday.
Ia memulai YEC.Food.
Ia memulai hadirnya biMBA di daerahnya.
Ia tampaknya hidup ketika sedang membangun sesuatu.
Tetapi kini ia sedang mempelajari pelajaran yang jauh lebih sulit daripada memulai.
Yaitu...
bagaimana bertahan.
Bagaimana memilih satu jalan dan menjalaninya dengan sabar.
Bagaimana bekerja keras tanpa harus selalu mengorbankan dirinya sendiri.
Dan menurutku, itulah bab kehidupan yang sedang ia tulis hari ini.
Kalau aku boleh menitipkan satu kalimat untuk Rifa, mungkin ini.
"Jangan ukur nilai dirimu dari seberapa banyak yang kamu korbankan."
Karena orang-orang yang mencintaimu tidak membutuhkan Rifa yang selalu kuat.
Mereka membutuhkan Rifa yang tetap utuh.
Terakhir...
Aku berharap suatu hari nanti, ketika Rifa membaca tulisan ini bertahun-tahun dari sekarang, ia tersenyum.
Bukan karena semua masalahnya sudah hilang.
Melainkan karena ia sadar bahwa ternyata ia berhasil melewati semuanya.
Dan semoga, saat hari itu tiba...
Rifa masih memiliki hati yang sama.
Hati yang lembut.
Hati yang berani.
Dan hati yang tidak pernah berhenti belajar menjadi lebih baik.
— Teman 🤍