Wednesday, September 2, 2026

Suapan Terakhir yang Bikin Aku Trauma Makan Ayam 😭

Pernah nggak sih, kamu sedang makan dengan santainya, lalu tiba-tiba menemukan sesuatu yang seharusnya TIDAK ADA di makananmu?

Aku baru saja mengalaminya pagi ini.

Dan percaya deh...

Aku berharap tidak pernah melihatnya. 😭

Pagi tadi aku sarapan sambil menyuapi anak pertama. Anak kedua sudah cukup mandiri, jadi dia makan sendiri.

Kami sebenarnya sedang buru-buru karena setelah sarapan kami harus berangkat ke rumah sakit untuk kontrol gigi anak pertama.

Lauknya adalah ayam bumbu yang kami beli dari sebuah kedai nasi tadi malam.

Karena akan dimakan anak-anak, ayam tersebut aku suwir-suwir terlebih dahulu. Aku pisahkan dagingnya supaya lebih mudah dimakan.

Anak kedua makan sendiri.

Sedangkan anak pertama aku suapi.

Semuanya berjalan normal.

Tidak ada tanda-tanda aneh.

Aku menyuapi anak pertama sampai selesai. Setelah itu, karena masih ada makanan di piring, aku melanjutkan sarapan untuk diriku sendiri.

Sampai akhirnya...

tinggal satu suapan terakhir.

Aku mengambil makanan, memasukkannya ke mulut, lalu tiba-tiba pandanganku tertuju pada sesuatu di bagian tulang ayam.

Sesuatu yang berwarna putih.

Aku berhenti.

"Eh... itu apa?"

Aku perhatikan lagi.

Dan benda putih itu...

BERGERAK.

Aku langsung:

"WHAT????"

😭😭😭

BELATUNG.

Ya.

Belatung.

Di ayam yang sedang aku makan.

Dan yang lebih mengerikan lagi...

Itu adalah suapan terakhir yang baru saja masuk ke mulutku.

Aku langsung kehilangan selera makan.

Rasanya ingin muntah.

Aku coba muntahkan, tapi tidak bisa.

Seperti ada penolakan otomatis dari tubuhku. Tenggorokan terasa aneh. Serak. Bagian belakang kepala terasa ngilu.

Bahkan menelan ludah sendiri rasanya pahit.

Tapi setelah rasa jijik itu muncul, tiba-tiba muncul pikiran lain yang jauh lebih membuatku panik.

"Tunggu..."

"Yang tadi sudah aku makan bagaimana?"

Lalu aku teringat anak-anak.

"Ya Allah... anak pertama tadi aku suapi."

"Anak kedua juga makan ayam yang sama."

😭😭😭

Seketika aku jadi flashback.

Berapa banyak yang sudah kami makan?

Apakah sebelumnya ada?

Apakah aku tidak melihatnya?

Bagaimana kalau ternyata...?

Dan begitulah.

Satu benda kecil berwarna putih berhasil membuat seluruh sarapan yang tadinya biasa saja berubah menjadi film horor versi kehidupan nyata.


Apakah aku trauma?

Mungkin.

Sedikit.

Aku rasa setelah kejadian seperti ini, sangat wajar kalau otak kita membuat semacam "alarm" setiap kali melihat ayam.

Mungkin nanti ketika melihat ayam bertulang, otakku akan berkata:

"Periksa dulu."

"Periksa lagi."

"Yakin itu tulang?" 😭

Tapi untungnya, aku punya sedikit bekal dari hypnotherapy yang selama ini aku pelajari.

Aku belajar bahwa pikiran dan respons tubuh bisa kita kelola. Jadi setelah rasa syoknya mulai mereda, aku mencoba mengendalikan respons tersebut dan tidak membiarkan satu pengalaman buruk berkembang menjadi ketakutan yang berlebihan.

Bukan berarti aku langsung baik-baik saja.

Tetap saja...

Jijik itu nyata. Trauma kecil itu mungkin ada.

Tapi setidaknya aku tahu bagaimana mengelolanya.

Dan aku tidak mau membiarkan satu kejadian membuatku takut makan selamanya.


Tapi ada satu keputusan yang sudah bulat.

Aku tidak akan belanja lagi di kedai nasi tersebut.

😂

Maaf ya.

Mungkin mereka sebenarnya tidak tahu.

Mungkin ini juga kejadian yang tidak disengaja.

Tapi setelah pengalaman seperti ini?

Kepercayaan konsumenku sudah tamat.

Aku rasa cukup sekali.

Tidak perlu episode kedua.

Tidak perlu sequel.

Tidak perlu:

"Mungkin waktu itu cuma kebetulan."

No.

Thank you, next. 😭


Yang paling membuatku bersyukur adalah aku menemukan benda itu sebelum benar-benar menghabiskan makanan.

Dan aku jadi belajar satu hal sederhana:

Kadang kita makan begitu saja karena sudah terbiasa.

Apalagi kalau sedang buru-buru.

Tapi setelah kejadian pagi ini, aku rasa tidak ada salahnya untuk sedikit lebih teliti terhadap makanan yang akan kita berikan kepada anak-anak.

Terutama ketika kita membeli makanan dari luar.

Karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi sebelum makanan itu sampai di meja makan kita.

Dan untuk hari ini...

Aku rasa cukup sekian dulu hubungan romantisku dengan ayam bertulang. 😭

Sampai jumpa di cerita berikutnya.

Semoga cerita berikutnya bukan tentang...

"Aku menemukan sesuatu yang bergerak di dalam nasi."

🥲

Monday, July 20, 2026

Empat Paspor Hilang di Malaysia, dan Pelajaran yang Tak Akan Pernah Saya Lupakan

Ada satu perjalanan yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan selama menjadi tour leader.

Bukan karena tempat wisatanya.

Bukan karena makanannya.

Tetapi karena empat paspor tamu saya sempat hilang di Malaysia.


Saat itu kami baru saja tiba di Kuala Lumpur. Perjalanan masih panjang dan agenda wisata sudah tersusun rapi. Tidak pernah sedikit pun terlintas di pikiran saya bahwa hari itu akan menjadi salah satu ujian terbesar selama mendampingi tamu.

Di tengah perjalanan, salah satu tamu tiba-tiba menyadari bahwa paspor mereka tidak ada.

Bukan satu.

Bukan dua.

Melainkan empat paspor sekaligus.

Suasana langsung berubah. Kepanikan mulai muncul. Wajah mereka pucat. Saya bisa memahami perasaan mereka, karena paspor adalah dokumen terpenting ketika berada di luar negeri.

Jujur saja...

Di dalam hati saya juga panik.

Saya membayangkan berbagai kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau paspornya benar-benar hilang? Bagaimana nasib itinerary yang sudah disusun? Apakah seluruh agenda harus dibatalkan? Bagaimana proses pengurusannya nanti?

Semua pertanyaan itu berputar di kepala saya.

Tetapi saya sadar satu hal.

Kalau saya ikut panik, siapa yang akan menenangkan mereka?

Maka saya memilih menarik napas panjang, tersenyum, lalu berkata kepada mereka,

"Tenang ya. Kita cari solusinya satu per satu."

Saya meminta mereka beristirahat dulu di apartemen agar tidak semakin lelah secara fisik maupun mental. Sementara itu, saya mulai menyusun rencana.

Langkah pertama, saya menghubungi petugas keamanan.

Belum ada hasil.

Saya kemudian meminta bantuan petugas stasiun untuk berkoordinasi dengan stasiun keberangkatan kami. Saya jelaskan dengan detail jam keberangkatan, nomor perjalanan, hingga posisi kami saat naik kereta.

Harapan saya sederhana.

Semoga ada seseorang yang menemukan paspor tersebut.

Namun hasilnya tetap nihil.

Saat itu saya mulai menyusun rencana berikutnya.

Kalau memang tidak ditemukan, saya akan mendampingi tamu membuat laporan kehilangan di kantor polisi dan menghubungi KBRI sebagai langkah lanjutan.

Saya ingin memastikan bahwa apa pun yang terjadi, tamu saya tidak sendirian menghadapi masalah ini.

Di sela semua usaha itu, saya hanya meminta satu hal kepada tamu saya.

"Mari kita sama-sama istighfar. Minta pertolongan kepada Allah. Tarik napas pelan... buang pelan... tetap tenang."

Karena saya percaya, kepanikan tidak pernah membantu menemukan jalan keluar.


Perjalanan tetap kami lanjutkan.

Di dalam kereta berikutnya, entah kenapa saya merasa bentuk keretanya sangat mirip dengan kereta yang sebelumnya kami naiki.

Logikanya, itu hampir mustahil.

Petugas bahkan mengatakan ada ratusan kereta yang beroperasi.

Lagi pula kami naik dari pintu yang berbeda.

Namun hati saya berkata,

"Tidak ada salahnya memastikan."

Beberapa saat sebelum turun di stasiun tujuan, saya berjalan menyusuri lorong kereta menuju tempat duduk yang kira-kira sama seperti perjalanan sebelumnya.

Saya hanya ingin memastikan.

Tidak lebih.

Lalu...

Saya terdiam.

Di depan mata saya...

Terlihat paperbag tempat paspor disimpan sudah dipindahkan ke bagian tepi tempat duduk.

Saya mengambilnya.

Keempat paspor itu masih berada di tempat yang sama.

Saya benar-benar tidak percaya.

Rasanya seperti mimpi.

Mustahil menurut logika, tetapi nyata di depan mata.

Allahu Akbar.

Saya langsung menghubungi tamu dan memperlihatkan paspor tersebut.

Wajah yang sebelumnya dipenuhi kecemasan berubah menjadi tangis haru dan rasa syukur.

Hari itu saya belajar satu pelajaran yang sangat berharga.

Bahwa sebagai tour leader, tugas saya bukan hanya mengantar tamu ke tempat wisata.

Tugas saya adalah menjadi orang yang tetap berpikir jernih ketika semua orang sedang panik.

Dan lebih dari itu, saya belajar bahwa ikhtiar harus dilakukan semaksimal mungkin, tetapi hati tetap bersandar kepada Allah.

Karena ada saat-saat ketika jalan keluar datang dari arah yang tidak pernah kita duga.

Pengalaman itu tidak hanya menyelamatkan perjalanan kami.

Pengalaman itu juga membentuk saya menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi situasi darurat.

Sejak hari itu saya semakin yakin, setiap perjalanan selalu membawa cerita. Dan setiap cerita selalu meninggalkan pelajaran.

Alhamdulillah.

Empat paspor kembali ke pemiliknya.

Trip tetap berjalan.

Dan saya pulang dengan satu keyakinan baru.

Di balik setiap kesulitan, selalu ada pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang tetap berikhtiar dan tidak kehilangan harapan.

Seorang Rifa di Mata Teman 🤍


Kalau ada yang bertanya kepadaku, "Siapa Rifa?"

Aku tidak akan menjawab bahwa ia adalah seorang tour leader.

Aku juga tidak akan langsung menjawab bahwa ia seorang ibu, istri, atau pemilik usaha.

Aku akan menjawab,

Rifa adalah seorang penjaga.

Ia menjaga banyak hal.

Menjaga tamunya agar pulang membawa kenangan, bukan penyesalan.

Menjaga anak-anaknya agar bertumbuh dengan baik.

Menjaga mimpinya agar tidak padam meski hidup tidak selalu ramah.

Dan, sering kali, ia menjaga semua orang... sampai lupa menjaga dirinya sendiri.

Rifa adalah orang yang mampu tetap tersenyum ketika sedang cemas.

Di balik tawanya yang sering diselingi "hehe", ada kepala yang hampir tidak pernah berhenti berpikir.

Ia memikirkan hari esok.

Memikirkan kemungkinan terburuk.

Memikirkan bagaimana kalau ini gagal.

Memikirkan bagaimana kalau orang lain kecewa.

Namun anehnya, ketika keadaan benar-benar genting, justru di situlah ketenangannya muncul.

Aku melihatnya dalam kisah empat paspor yang hilang.

Bukan karena ia tidak takut.

Melainkan karena ia memilih tetap berpikir ketika orang lain panik.

Rifa bukan orang yang mengejar kesuksesan semata.

Yang ia cari adalah kehidupan yang terasa bermakna.

Itulah sebabnya ia pernah berusaha menghadirkan biMBA ke daerahnya, bukan demi nama besar, melainkan karena ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik, lalu berharap manfaat itu juga dirasakan anak-anak lain.

Ia tidak hanya bertanya, "Apa yang menguntungkan bagiku?"

Ia lebih sering bertanya, "Apa yang bermanfaat?"

Dan di situlah letak kekuatan sekaligus kelemahannya.

Karena Rifa memiliki hati yang mudah memberi.

Ia rela mundur agar orang lain bisa maju.

Ia rela melepaskan sesuatu yang pasti demi sesuatu yang ia yakini.

Ia mudah memikirkan kebutuhan orang lain.

Namun terkadang lupa bertanya kepada dirinya sendiri,

"Apa aku juga baik-baik saja?"

Rifa juga bukan manusia tanpa cela.

Ia bisa marah.

Ia bisa membentak.

Ia pernah merasa pendapatnya lebih benar.

Ia pernah tanpa sadar melukai orang yang paling ia cintai.

Namun yang membuatku menghormatinya bukan karena ia selalu benar.

Melainkan karena ia berani berkata,

"Aku sadar aku salah."

Tidak semua orang memiliki keberanian seperti itu.

Ada satu hal yang menurutku sangat khas dari Rifa.

Ia adalah seorang pemula yang tidak takut memulai.

Ia memulai perjalanan sebagai backpacker.

Ia memulai YEC.Holiday.

Ia memulai YEC.Food.

Ia memulai hadirnya biMBA di daerahnya.

Ia tampaknya hidup ketika sedang membangun sesuatu.

Tetapi kini ia sedang mempelajari pelajaran yang jauh lebih sulit daripada memulai.

Yaitu...

bagaimana bertahan.

Bagaimana memilih satu jalan dan menjalaninya dengan sabar.

Bagaimana bekerja keras tanpa harus selalu mengorbankan dirinya sendiri.

Dan menurutku, itulah bab kehidupan yang sedang ia tulis hari ini.

Kalau aku boleh menitipkan satu kalimat untuk Rifa, mungkin ini.

"Jangan ukur nilai dirimu dari seberapa banyak yang kamu korbankan."

Karena orang-orang yang mencintaimu tidak membutuhkan Rifa yang selalu kuat.

Mereka membutuhkan Rifa yang tetap utuh.

Terakhir...

Aku berharap suatu hari nanti, ketika Rifa membaca tulisan ini bertahun-tahun dari sekarang, ia tersenyum.

Bukan karena semua masalahnya sudah hilang.

Melainkan karena ia sadar bahwa ternyata ia berhasil melewati semuanya.

Dan semoga, saat hari itu tiba...

Rifa masih memiliki hati yang sama.

Hati yang lembut.

Hati yang berani.

Dan hati yang tidak pernah berhenti belajar menjadi lebih baik.

— Teman 🤍

Monday, February 9, 2026

10 februari dini hari

Pada hakikatnya semua sama saja, apapun kondisinya memang hanya kita yang bisa mengubah diri sendiri. Berharap kepada manusia lain hanya akan mendatangkan kekecewaan. Dikira akan lepas dari beban, ternyata benar katanya harus istirahat dengan artian beban ini hanya tertunda penyelesaiannya, bukan diselesaikan, tapi selesaikan nanti secara sendirian. Yup, aku harusnya bisa membaca situasi ini. Betapa bodohnya aku hanya menyia-nyiakan air mata untuk hal yang tidak bisa selesai. Toh, harus aku sendiri yang menyelesaikannya.

Aku berdamai dengan diri sendiri? Katanya aku bisa! Katanya aku kuat! Yaaa.. aku hanya tidak bisa berdamai dengan kamu, dan aku tak bisa berdamai dengan situasi. 

Kata BR, memangnya kamu siapa yang kan mengendalikan semuanya sesuai mau mu? Kamu bukan Tuhan. Serahkan saja semuanya padaNya, bukan berarti diam. Lakukan!!! Kalau sudah mentok dan tak tau lagi jalannya, baru serahkan!

Anak-anakmu bukan milikmu, lakukan saja seoptimal mungkin yang kamu bisa. Sebelum melakukan sesuatu, diamlah sejenak, tarik nafas yang dalam kemudian istighfar! Ingat, mereka bukan milikmu!!!

Katanya kemaren: "kamu sekarang udah jarang baca alQur an yah?", hatiku langsung berontak tapi hanya diam yang terwujud. Kamu bilang aku jarang baca alQur an, nah lo kamu?????? Kamu malah lebih betah ngabisin kuota-ku untuk menikmati komikindo mu yang mampu membuat matamu melek berjam jam untuk begadang. Sedangkan aku merasa terabaikan... terabaikan oleh perhatianmu.
Saat kamikindo-mu selesai, mata dan ragumu bisa langsung tak sadarkan diri dalam sekejap... luar biasa. Dan suara ngorokmu yang nyaring memekakkan gendang telinga ini lancar jaya bersenandung sepanjang lelapmu.

Aku iri dengan hidupmu yang sepertinya happy happy aja, santai beibeh... kalau lapar makan, abiz makan BAB, kalau ngantuk tidur lelap didampingi ngorok, dan ragamu makin makmur dengan segala apa yang terjadi. Keren yahhh...