Pernah nggak sih, kamu sedang makan dengan santainya, lalu tiba-tiba menemukan sesuatu yang seharusnya TIDAK ADA di makananmu?
Aku baru saja mengalaminya pagi ini.
Dan percaya deh...
Aku berharap tidak pernah melihatnya. ðŸ˜
Pagi tadi aku sarapan sambil menyuapi anak pertama. Anak kedua sudah cukup mandiri, jadi dia makan sendiri.
Kami sebenarnya sedang buru-buru karena setelah sarapan kami harus berangkat ke rumah sakit untuk kontrol gigi anak pertama.
Lauknya adalah ayam bumbu yang kami beli dari sebuah kedai nasi tadi malam.
Karena akan dimakan anak-anak, ayam tersebut aku suwir-suwir terlebih dahulu. Aku pisahkan dagingnya supaya lebih mudah dimakan.
Anak kedua makan sendiri.
Sedangkan anak pertama aku suapi.
Semuanya berjalan normal.
Tidak ada tanda-tanda aneh.
Aku menyuapi anak pertama sampai selesai. Setelah itu, karena masih ada makanan di piring, aku melanjutkan sarapan untuk diriku sendiri.
Sampai akhirnya...
tinggal satu suapan terakhir.
Aku mengambil makanan, memasukkannya ke mulut, lalu tiba-tiba pandanganku tertuju pada sesuatu di bagian tulang ayam.
Sesuatu yang berwarna putih.
Aku berhenti.
"Eh... itu apa?"
Aku perhatikan lagi.
Dan benda putih itu...
BERGERAK.
Aku langsung:
"WHAT????"
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
BELATUNG.
Ya.
Belatung.
Di ayam yang sedang aku makan.
Dan yang lebih mengerikan lagi...
Itu adalah suapan terakhir yang baru saja masuk ke mulutku.
Aku langsung kehilangan selera makan.
Rasanya ingin muntah.
Aku coba muntahkan, tapi tidak bisa.
Seperti ada penolakan otomatis dari tubuhku. Tenggorokan terasa aneh. Serak. Bagian belakang kepala terasa ngilu.
Bahkan menelan ludah sendiri rasanya pahit.
Tapi setelah rasa jijik itu muncul, tiba-tiba muncul pikiran lain yang jauh lebih membuatku panik.
"Tunggu..."
"Yang tadi sudah aku makan bagaimana?"
Lalu aku teringat anak-anak.
"Ya Allah... anak pertama tadi aku suapi."
"Anak kedua juga makan ayam yang sama."
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Seketika aku jadi flashback.
Berapa banyak yang sudah kami makan?
Apakah sebelumnya ada?
Apakah aku tidak melihatnya?
Bagaimana kalau ternyata...?
Dan begitulah.
Satu benda kecil berwarna putih berhasil membuat seluruh sarapan yang tadinya biasa saja berubah menjadi film horor versi kehidupan nyata.
Apakah aku trauma?
Mungkin.
Sedikit.
Aku rasa setelah kejadian seperti ini, sangat wajar kalau otak kita membuat semacam "alarm" setiap kali melihat ayam.
Mungkin nanti ketika melihat ayam bertulang, otakku akan berkata:
"Periksa dulu."
"Periksa lagi."
"Yakin itu tulang?" ðŸ˜
Tapi untungnya, aku punya sedikit bekal dari hypnotherapy yang selama ini aku pelajari.
Aku belajar bahwa pikiran dan respons tubuh bisa kita kelola. Jadi setelah rasa syoknya mulai mereda, aku mencoba mengendalikan respons tersebut dan tidak membiarkan satu pengalaman buruk berkembang menjadi ketakutan yang berlebihan.
Bukan berarti aku langsung baik-baik saja.
Tetap saja...
Jijik itu nyata. Trauma kecil itu mungkin ada.
Tapi setidaknya aku tahu bagaimana mengelolanya.
Dan aku tidak mau membiarkan satu kejadian membuatku takut makan selamanya.
Tapi ada satu keputusan yang sudah bulat.
Aku tidak akan belanja lagi di kedai nasi tersebut.
😂
Maaf ya.
Mungkin mereka sebenarnya tidak tahu.
Mungkin ini juga kejadian yang tidak disengaja.
Tapi setelah pengalaman seperti ini?
Kepercayaan konsumenku sudah tamat.
Aku rasa cukup sekali.
Tidak perlu episode kedua.
Tidak perlu sequel.
Tidak perlu:
"Mungkin waktu itu cuma kebetulan."
No.
Thank you, next. ðŸ˜
Yang paling membuatku bersyukur adalah aku menemukan benda itu sebelum benar-benar menghabiskan makanan.
Dan aku jadi belajar satu hal sederhana:
Kadang kita makan begitu saja karena sudah terbiasa.
Apalagi kalau sedang buru-buru.
Tapi setelah kejadian pagi ini, aku rasa tidak ada salahnya untuk sedikit lebih teliti terhadap makanan yang akan kita berikan kepada anak-anak.
Terutama ketika kita membeli makanan dari luar.
Karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi sebelum makanan itu sampai di meja makan kita.
Dan untuk hari ini...
Aku rasa cukup sekian dulu hubungan romantisku dengan ayam bertulang. ðŸ˜
Sampai jumpa di cerita berikutnya.
Semoga cerita berikutnya bukan tentang...
"Aku menemukan sesuatu yang bergerak di dalam nasi."
🥲
No comments:
Post a Comment