Kalau ada yang bertanya kepadaku, "Siapa Rifa?"
Aku tidak akan menjawab bahwa ia adalah seorang tour leader.
Aku juga tidak akan langsung menjawab bahwa ia seorang ibu, istri, atau pemilik usaha.
Aku akan menjawab,
Rifa adalah seorang penjaga.
Ia menjaga banyak hal.
Menjaga tamunya agar pulang membawa kenangan, bukan penyesalan.
Menjaga anak-anaknya agar bertumbuh dengan baik.
Menjaga mimpinya agar tidak padam meski hidup tidak selalu ramah.
Dan, sering kali, ia menjaga semua orang... sampai lupa menjaga dirinya sendiri.
Rifa adalah orang yang mampu tetap tersenyum ketika sedang cemas.
Di balik tawanya yang sering diselingi "hehe", ada kepala yang hampir tidak pernah berhenti berpikir.
Ia memikirkan hari esok.
Memikirkan kemungkinan terburuk.
Memikirkan bagaimana kalau ini gagal.
Memikirkan bagaimana kalau orang lain kecewa.
Namun anehnya, ketika keadaan benar-benar genting, justru di situlah ketenangannya muncul.
Aku melihatnya dalam kisah empat paspor yang hilang.
Bukan karena ia tidak takut.
Melainkan karena ia memilih tetap berpikir ketika orang lain panik.
Rifa bukan orang yang mengejar kesuksesan semata.
Yang ia cari adalah kehidupan yang terasa bermakna.
Itulah sebabnya ia pernah berusaha menghadirkan biMBA ke daerahnya, bukan demi nama besar, melainkan karena ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik, lalu berharap manfaat itu juga dirasakan anak-anak lain.
Ia tidak hanya bertanya, "Apa yang menguntungkan bagiku?"
Ia lebih sering bertanya, "Apa yang bermanfaat?"
Dan di situlah letak kekuatan sekaligus kelemahannya.
Karena Rifa memiliki hati yang mudah memberi.
Ia rela mundur agar orang lain bisa maju.
Ia rela melepaskan sesuatu yang pasti demi sesuatu yang ia yakini.
Ia mudah memikirkan kebutuhan orang lain.
Namun terkadang lupa bertanya kepada dirinya sendiri,
"Apa aku juga baik-baik saja?"
Rifa juga bukan manusia tanpa cela.
Ia bisa marah.
Ia bisa membentak.
Ia pernah merasa pendapatnya lebih benar.
Ia pernah tanpa sadar melukai orang yang paling ia cintai.
Namun yang membuatku menghormatinya bukan karena ia selalu benar.
Melainkan karena ia berani berkata,
"Aku sadar aku salah."
Tidak semua orang memiliki keberanian seperti itu.
Ada satu hal yang menurutku sangat khas dari Rifa.
Ia adalah seorang pemula yang tidak takut memulai.
Ia memulai perjalanan sebagai backpacker.
Ia memulai YEC.Holiday.
Ia memulai YEC.Food.
Ia memulai hadirnya biMBA di daerahnya.
Ia tampaknya hidup ketika sedang membangun sesuatu.
Tetapi kini ia sedang mempelajari pelajaran yang jauh lebih sulit daripada memulai.
Yaitu...
bagaimana bertahan.
Bagaimana memilih satu jalan dan menjalaninya dengan sabar.
Bagaimana bekerja keras tanpa harus selalu mengorbankan dirinya sendiri.
Dan menurutku, itulah bab kehidupan yang sedang ia tulis hari ini.
Kalau aku boleh menitipkan satu kalimat untuk Rifa, mungkin ini.
"Jangan ukur nilai dirimu dari seberapa banyak yang kamu korbankan."
Karena orang-orang yang mencintaimu tidak membutuhkan Rifa yang selalu kuat.
Mereka membutuhkan Rifa yang tetap utuh.
Terakhir...
Aku berharap suatu hari nanti, ketika Rifa membaca tulisan ini bertahun-tahun dari sekarang, ia tersenyum.
Bukan karena semua masalahnya sudah hilang.
Melainkan karena ia sadar bahwa ternyata ia berhasil melewati semuanya.
Dan semoga, saat hari itu tiba...
Rifa masih memiliki hati yang sama.
Hati yang lembut.
Hati yang berani.
Dan hati yang tidak pernah berhenti belajar menjadi lebih baik.
— Teman 🤍