Wednesday, July 23, 2014

Semua Akan Pulang


Gadih Rantau...
itulah nama account facebooknya kala terakhir kali berkomunikasi dengan I.
pertemuan kami g disengaja kala I berkunjung ke Asrama Putri III,
keakraban langsung tercipta dan kasih sayang langsung mengikat sanubari
performan_nya yang anggun, berwibawa dan tenang serta penuh senyum melekat hangat di ingatan.
tak lama memang, kemudian kami berpisah untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing,
beruntung I bisa mengabadikan moment itu dengan berfoto bersamanya di depan kampus. walau cuma 4jepret tapi sangat berkesan...
Adik kelas yang berpaut 4 tahun sehingga sebelumnya tak pernah bersua, namun dipertemukan dalam bingkai sesama alumni...
pertemuan selanjutnya ketika dirinya akan segera mengurus administrasi untuk kembali ke cairo [mesir] untuk melanjutkan belajar, kala itu mesir sedang bergejolak. banyak yang pulang dan akhirnya kembali lagi kesana. kami janjian di padangpanjang untuk bertemu, dan diakhiri dengan makan bakso amin di dekat bioskop lama, bakso amin yang pertama kali I coba selama hidup di padangpanjang, dialah yang memperkenalkannya.. memang terasa enak, apalagi ketika ekspresi lucu I yang ditangkapnya ketika melihat bakso urat yang besar itu.. haha.. setelah itu, kita tak pernah bersua lagi dik, dan berkomunikasi hanya lewat chat, fb dan skype.. Ahhh... kamu ini ti, bikin uni kangen aja...


8 Februari 2013
Gadih RantauSalam, Shat uni?Rifa'atul Khairwasslm. alhamdulillah dik. luar biasa. ty cam mane? Gadih Rantau: Krg luar biasa ni. Lg sick.Suaro ti hlg uni.Uni ad whatsap ni? Rifa'atul Khair: ndak ado do dik. moga cpt sembuh y
9 Maret 2013Gadih Rantau: salam Rifa'atul Khairwassalam dik


Gadih Rantaupa kabar uni syank. lg ap?

Rifa'atul Khairalhamdulillah dik. lagi nyari2 info nih. ti pa kabar?
Gadih Rantauinfo ap ne?. alhmdlillah uni. demam sikik. kgen tw sm uni
Rifa'atul Khairinfo usaha dik. baa koq damam2 juo lai
Gadih Rantau
Rifa'atul Khairuni taragak puloGadih Rantaut lah ni. klo alrgi debu ko tiok sbnta. skik.ee.nyo.ni
Rifa'atul Khairsadang musim angek disitu eo?Gadih Rantauk msim angek bru ni. tp lum msuk lai nibru prgntian
Rifa'atul Khairkan lai pakai cadar disitu nyo kan?Gadih Rantaulai uni. knai debu siap brsihkan rmh aj nyo ni. tmbah lai udara ndk rncak knptg badai.debu cairo ni
Rifa'atul Khairyo sadang barasiahan rumah tu tutuik hiduang tiGadih Rantautp ti lai d rmh. lai pke.masker nyo ni. nmony skik k dtg. hehehe
Rifa'atul Khairrajin c minum aia putiah dih sayangGadih Rantaukrn paru2.ni jd mdh alrgi ni. ok ni
Rifa'atul Khairsamo jo uni ti. uni ndak juo bisa kanai debu. paru2 uni pernah infeksi. sajak setahun yg lalu. jangankan debu, asok rokok sajo bisa bikin sasak
Gadih Rantausyfakillah niRifa'atul KhairwaiyyakGadih Rantauklo ti dr 2 mak knai paru2 ti uni. iy.mah nirokok n kcing
Rifa'atul Khairya ya yaGadih Rantau
insya allah ti plg thun iko ni
Rifa'atul Khairbsuo wak dih. bulan bara rencana dik?
Gadih Rantauaman t uniRifa'atul Khairbulan bara rencana dik?Gadih Rantaujan pai jauh2.uni.ndk.ni. heheawl juli unisiap ujian
Rifa'atul Khairpaliang uni ado agenda ke jakarta sajo nyoGadih Rantauhmmm. blo t.ni?
Rifa'atul Khairklu awal juli, insyaAllah uni alah di rumah tu nyo. rencananyo dlam maret ko juo
Gadih Rantau
mnga k.jkrta.ni?
Rifa'atul Khairado pelatihan saketekGadih Rantauhmmm. mga lncar uni
Rifa'atul Khairlah makan ti?Gadih RantauAlum lai niRifa'atul Khairjam bara disitu?Gadih RantauJam 3 sre uni

15 Mei 2013Gadih Rantauuniii. ap yg bsa k dmkan kn tuu. litak adiak plg ujiaann haa

Rifa'atul KhairCUP CUP CUP. LAI ADO TAROMPA GORENG KO NYO HA. :d
Gadih Rantauhiiikkss...hikss...sad
plg ujian d ksih trmpa



3 Agustus 2013
Gadih Rantausalam. pie kbre toh mba?
Rifa'atul Khairsalam, Alhamdulillah apik2 wae
  • 10 Juni 2013
Rifa'atul Khair permisiiiiiiiiiiiiiGadih Rantau: ^_^


    Percakapan kita di chat terhenti sampai disini dik, kemudian dirimu tiba2 nongol kasih comment di salah satu poto uni:

          Memang bukanlah menjadi suatu hal yang istimewa dengan percakapan kita di chat, hanya saja... comment terakhirmu menjadi percakapan terakhir kita di bumi.

          tiba-tiba di pertengahan juli ini uni mendapatkan berita yang membuat semua persendian uni lemas, yang kronologinya disampaikan oleh sahabatmu (Rizqana Mursyidah) di cairo sana.


          Bismillahhirrahmanirrahiim…
          Tulisan ini akan mewakili apa yang telah saya alami, dan apa yang telah terjadi pada malam tanggal 17/7/2014. Saya akan mencoba menuliskannya sesuai dengan apa yang telah kami alami, dan semampu yang saya bisa.

          Belakangan beredar kabar yang simpang siur, kadang tidak sesuai dengan kronologi kejadian.Seakan menukil kabar dari sana sini, tanpa memperjelas terlebih dahulu. Sampai pada hari senin, ketika saya hendak memperpanjang paspor, seorang ibu yang bekerja di kedutaan menyakan pada saya dengan suara khas beliau, “Memang jam sebelas pulang dari mana Nak?” Dari sini terbesitlah keinginan saya untuk menuliskan secara langsung. Berita yang beredar telah banyak versi. Kemarin sempat diperbaiki oleh teman saya Yuli Dw. Beliau menuliskan secara langsung ketika kami sedang menjelaskan kejadian dengan seorang senior di KMM dan Dubes beserta rombongan. Saya sangat berterima kasih kepada beliau, yang berusaha menuliskannya dengan bentuk berbeda dan lebih mendetail.

          Beberapa hari belakangan saya masih diliputi rasa sedih yang sangat mendalam, duka kita bersama. Kehilangan sosok wanita yang begitu hebat bagi saya. Yang telah menjadi adik, saudara, sahabat bagi saya khususnya dan bagi semua yang mengenal beliau pada umumnya. Maka ketika ada yang bertanya kepada saya, saya hanya menjelaskan secara langsung sebisa saya. Atau sesuai apa yang di tanyakan kepada saya. Mungkin di beberapa jawaban saya ada yang kurang dan terlupakan ketika saya menjelaskannya. Namun secara garis besar kita semua sudah mengetahui kejadian yang menimpa kami.

          Di tulisan ini saya mencoba secara tenang dan ingin menguak kembali memori pada tanggal 17/7/14 itu.

          Saya dan almarhumah dari sekolah yang sama dan beda generasi. Saya satu tahun di atas Almh, dari dulu saya sudah cukup mengenal beliau, dari masa sekolah hingga sampai di Mesir. Saya juga pernah tinggal satu rumah dengannya beberapa bulan di Mesir.

          Sebelum kejadian, beberapa bulan yang lalua saya merasa ada yang aneh ada sesuatu yang beda pada diri almh. Setiap hari kami selalu bersama mulai dari chatingan, makan bareng, jalan bareng, belanja bareng, nangis bareng dan bahagiapun kami juga bareng.

          Sore itu kami janjian hendak ke Hay Asyir. Ke rumah akhwat minang karena ada keperluan dan sambil menjenguk Nora adik kelas kami yang sedang sakit. Saya naik bis 80 coret dari mahattah (Terminal) Darrasah dan beliau menunggu depan asrama Buuts putri. Kebetulan rute dari Darrasah - Hay Asyir melewati asrama Buuts. Seperti biasa di mobil kami banyak bercerita. Dia tampak begitu ceria seperti biasa. Mengenakan hijab warna pink keunguan, baju biru motif bunga dan rok dasar denim warna biru. Kami janjian dari pukul 4 sore setelah Ashar.

          Setiba di Gambe (nama rumah akhwat minang), di sana ada 2 orang adik Iim dan Nora. Sebelumnya kami sempat berhenti di warung untuk membeli jus koktail untuk anak rumah Gambe. Menghabiskan waktu di Gambe, bercerita sana sini. Dan sebelum adzan Maghrib 2 orang teman saya datang menjenguk Nora. Iin dan Rike, yang masih sempat bercanda dengan beliau. Iin dan Rike berbuka di tempat senior lain. Saya dan Gusti berbuka di Gambe. Menu berbuka mengigatkan kami pada kampung halaman ada kacang padi, semangka, dan kurma.

          Setelah berbuka, kamipun sholat magrib. Ba’da sholat kami masih bercengkrama bersama.

          Pukul 20.15 saya dan Gusti turun dari rumah. Kami hendak ke Makrom Abid (hendak pulang menuju tempat masing-masing). Dan setelah menelusuri jalan dari Mutsallas ke Madrasah tidak ada mobil ke Makrom. Dan kami berniat meneruskan perjalanan sampai mahattoh Asyir. Namun di depan pasar Madrasah mobil micro bus menghampiri kami (lebih di kenal dengan tramco/ angkot), kami bertanya ini mobil ke Makrom? dan supirpun mengiyakan. Kami sempat mendengar azan Isya sebelum menaiki mobil.

          Didalam ada dua orang laki-laki, seorang darinya seolah-olah sebagai kenek, yang satunya lagi seolah-olah penumpang. Kami duduk di kursi nomor 2. Saya di pinggir dekat jendela, dan Gusti di sebelah saya yang lebih dekat ke pintu. Mobil sempat berhenti sejenak di depan market Ro’i Madrasah, orang di belakang saya keluar. Saya menyangka mungkin hendak beli rokok ke seberang jalan. Wallahu a’lam. Tak saya perhatikan kemana, namun berhenti sekitar satu menit. Kemudian mobil terus melaju biasa. Di Mutsallas ada penumpang yang naik. Kenek menanyakan hendak kemana?, “ke bawabat”. Dan di depan market khoiruzzaman penumpang itu turun.

          Di perjalanan kami sempat bercerita masalah takdir.
          “Baa sih takdir tu ty?” Tanya saya padanya, hanya sebatas ingin di kuatkan.
          “ Ni kan tau mah, hidup, mati, jodoh rasaki tu lah di tentukan oleh Allah sabalum awak ado di dunia, apopun itu yang terjadi samo awak lah di tetapkan dek Allah. Gitu juo wak naik oto kini lah ado di tetapkan samo Allah” Jawab almarhumah, dengan semangat. Pembicaraan tentang takdir berlanjut.

          Kami mulai agak aneh setelah supir menghimbau “Makrom, Makrom”, namun tak menaiki penumpang. Ada seorang yang ingin naik mobil itu karena mengetahui mobil hendak ke Makrom, tapi karena telah terlewati, maka mobil tetap melaju dengan kencang.

          Mulailah saat mobil tidak membelok ke kanan, kami menanyakan. “ kok gak belok kanan?”, tanya kami sambil terheran-heran. “Mau isi bensin di sana.” Jawab supir. “sebentar saya mau isi bensin” kata supir ke penumpang di belakang saya. “ya, gak pa-pa”. jawab penumpang itu singkat. Beloklah mobil itu ke tempat bensin di dekat mesjid As Salam. Namun mobil tetap melaju ke belakang As Salam. Kamipun menanya, “kok gak isi bensin di sana?”. Sopir menjawab, “Mau masuk dari belakang As Salam ke pom bensin”. Jawaban ini masih bisa kami terima dengan akal sehat, walau cemas telah menimpa kami. Memang biasanya kalau hendak mengisi bensin dari arah sana. Namun, mobil tetap melaju kencang kearah Muqottom. Di sanalah mereka mulai melancarkan aksinya. Supir menghidupkan musik secara keras, kondektur mobil yang awalnya duduk di bagian dapan pindah duduk ke sebelah Almrh. Mulailah orang itu mengeluarkan pisau lipatnya. Di arahkan kepada kami. Dia menyerang saya. Pisau itu hendak di tusuk ke badan saya beberapa kali dia mencoba. Alhmdulillah pisau itu terlipat ketika hendak menusuk saya, dan jempolnya terkena sayatan pisaunya sendiri. Dan saya mencoba sedikit membela diri, sampai akhirnya tangan saya terluka. Almrh mencoba untuk menenangkan situasi. “kholas yasto”, dan memanggil saya “Uni.. uni..”. Nampak raut ketakutan di wajahnnya. Karena darah telah banyak mengalir di pakaian saya, di jok mobil. Nampak kecemasan Almrh terhadap kondisi saya. Saya kanget ketika ada yang mencekek saya dari belakang. Saya sempat terlupa bahwa ada seorang penumpang di belakang kami.

          Kami memberikan barang kami. Saya memberikan hp saya, dan almrh memberikan tasnya. Dan ketika itu kami meminta untuk turun, tapi permintaan kami tak di gubrisnya. Berulang-ulang kami ulangi “Turunkan kami”. Namun mobil tetap melaju kencang. Disini mulailah rasa takut dan cemas meliputi kami. Orang itu menarik tangan kami. Dan mulai memperlihatkan gelagat mencurigakan. Kami sangat cemas.

          Ketika dia hendak menarik tangan saya, di lihatnya saya menggenakan jam tangan dari besi. Langsung jam tangan itu di tariknya. Saya meronta kesakitan “Tunggu, biar saya buka sendiri” pinta saya. Namun dengan emosi jam tangan saya di tariknya sampai jam tangan itu terputus. Di ujung jalan mobilpun berputar. Dengan suara lantang kami ulangi permintaan kami ingin turun. Ketika itu saya kanget melihat Almh membuka pintu dan keluar dengan keadaan mobil melaju kencang. Terasa detik terhenti. Saya sungguh kaget, tak menyangka. Dia melakukannya karena menjaga kehormatan beliau, takut terjadi hal-hal yang lebih bahaya dari pada ini, dan turun dari mobil dengan sangkaan akan bisa selamat dari perampok yang sudah mulai menampakkan gelagat mencurigakan. saya tidak melihat posisi Almh ketika turun. Yang terlihat dari sudut mata saya di jendela Almh sedang melayang. Saya membaca gelagat kaget dari mereka. karena kanget mereka memelankan laju mobil dan mendorong saya keluar ketika saya masih kanget dengan keluarnya almh dari mobil.

          Pikiran saya hanya terfokus kepada Almh, saya tak ada menoleh ke arah mobil untuk melihat plat mobil atau bentuk mobil dari belakang. Dipikiran saya yang ada hanyalah keadaan almh. Tak peduli luka atau darah yang berceceran. Secepat mungkin saya bangkit. Ketika bangkit saya tidak melihat sosok apapun. Karena keadaan jalan di sana gelap. Di samping jalan deretan kuburan. Saya berlari sambil menangis dan memanggil nama Almh , “Uty… Uty…”. Dan terlihat sosok sedang terbujur di jalan. Saya kencangkan lari saya. Saya menghapiri Almh. Saya sempat memeluknya. “Ty, bertahan Ty, Ni mohon”. Saya mengucap nama Allah, menangis sejadi-jadinya. Nafasnya terengah-engah, Nampak darah mengalir keluar dari hidungnya. Namun Almh tak berkata apa-apa. Tak mampu berucap. Matanya terbuka, hny nafas terengah-engah, darah dari hidung terus mengalir. Saya begitu sangat cemas, sangat-sangat mencemaskan Almh. Ketika itu saya langsung bangkit meminta bantuan kepada mobil yang lewat.

          Tangisan ini tak dapat saya hentikan. Begitu banyak mobil yang lewat namun tak menghiraukan kami. Saya mencoba dan terus mencoba, hampir 10 menit tak ada harapan ada yang membantu kami. saya sempat putus asa, namun putus asa itu dikalahkan dengan keinginan saya untuk menyelamatkan sahabat saya. Saya nekad berdiri di tengah jalan. Membentang kan tangan saya, beberapa mobil tetap melaju di samping saya. Akhirnya ada taxi yang berhenti. Saya melihat ada 2 orang wanita di dalam taxi itu. Yang satu sudah paruh baya, dan yang satunya masih remaja. Supir taxi sempat keluar dan ibu itu juga. Melihat kondisi Almh dari jauh. Ibu itu menarik tangan supir itu, dan berbisik yang saya tak hiraukan apa yang mereka katakan. Saya hanya meronta. “Tolong kami, tolong bawa teman saya ke rumah sakit”.

          Akhirnya sopir berkata, kami tak bisa menolong. Dan pergi berlalu. Saya tetap mencari bantuan dengan menyetop mobil yang lewat. Sekitar 5 menit setelah taxi berlalu, ada mobil sedan jenis lama berhenti. Saya mengejar mobil itu, dan meminta bantuan untuk membawa Almh ke rumah sakit. Turunlah sopir besama temannya dari mobil itu. Mereka berdiri mendekati Almh, dan bertanya pada saya. “Apa yang terjadi?” saya menjawab secara singkat dan terbata-bata. Saya tetap memohon membawa kami kerumah sakit. Namun mereka tidak mau, “Saya takut masuk penjara”, ujarnya. Dengan lantang saya katan “Tenang saja, nanti saya yang akan menjelaskannya, bapak tidak akan di penjara”, kata saya. Tapi mereka tetap bersikukuh dan menelpon ambulan. Sepertinya mereka tidak mengetahui apa nama jalan di sana, dan yang satunya lagi menanyakan ke mobil yang lewat apa nama jalan itu. Bapak itu sibuk menelpon. Saya tetap bersikeras ingin ke rumah sakit dengan mobilnya. Katanya, “Mobil saya sudah penuh, lihatlah, barang di kursi belakang penuh”, memang banyak barang disana. “Pindahkan barang ke bagasi, pinta saya, atau bawa saja teman saya ke rumah sakit!”. Saya sempat kena marah oleh bapak itu, “Ini saya sedang menolong kalian! Menelpon ambulan.” Saya kembali ke tempat Almh. Masih saya lihat darah berkucuran di hidung. Bapak itu memberikan saya tisu. Saya bersihkan darah itu dengan tisu yang bapak itu berikan.

          Bapak itu menyarankan saya untuk membersihkan darah pada tangan saya, “Buka hijabnya, agar lebih mudah untuk bernafas” tambahnya. Saya yang sedang kalut dan pusing langsung mengangkat jilbab bergo yang dikenakan almh ke atas keningnya dan menggantungkan cadar di lehernya untuk menutupi leher almh. Dan membiarkan dalaman jilbab almh untuk menutupi telinganya, “Dia masih bernafas, kamu tenang saja” Lanjut bapak tadi dengan menenangkan saya.

          Kurang lebih 15 menit berlalu Ambulance datang, dua orang petugas keluar dari ambulance salah satu dari mereka langsung menyampari Almh, mengecek nadi di leher Almh, di tangan, serta menggerakkan tangan Almh. Perasaan saya sudah tidak karuan, saya melihat petugas itu menggeleng-gelengkan kepala. Saya tetap bersikukuh bahwa beliau masih baik-baik saja. Untuk meyakinkan petugas tadi kembali ke dalam mobilnya dan mengambil alat yang langsung di tempelkan di jari Almh. Saya melihat kata Off di layar kecil itu. Kemudia petugas mencoba mempompa dada Almh untuk menolongnya. Dan seketika petugas itu terdiam. Saya tetap meyakinkan diri saya bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada Almh.

          Petugas ambulance mengambil perban dari dalam mobil, dan membersihkan luka saya serta memperbannya. Saya meminta petugas itu untuk membawa Almh ke rumah sakit. “kalau keadaan seperti ini kami tidak bisa membawanya kerumah sakit. Kita tunggu polisi datang dulu”. Salah seorang petugas menelpon polisi. Dan mereka menanyakan saya apa yang telah terjadi. Saya secara singkat sepeti jawaban saya pada bapak tadi. Saya tetap duduk di samping Almh. Mereka bercakap-cakap bahwa Almh sudah tiada, serta terdengar doa dari mereka. “Tutup wajahnya” kata bapak itu pada petugas itu. Jilbab bergo beliau di turunkan kembali untuk menutup wajah Almh. Saya agak histeris, dan mengatakan bahwa Almh baik-baik saja. “Ya, dia tidak meninggal”, kata mereka. Walau kenyataan telah tampak di mata kepala saya bahwa beliau telah tiada. Saya tetap meyakinkan diri bahwa beliau tidak apa-apa. Mereka menyanyakan no hp yang saya hafal. Naasnya saya tidak mengingat no hp siapapun saat itu. Saya katakana saya dari Indonesia, tolong hubungi kedutaan Indonesia. Mereka tidak tau kemana akan mencari tau no hp kedutaan Indonesia.

          Lebih kurang sepuluh menit setelah Ambulan datang, datanglah petugas polisi. Dan langsung melihat Almh, dan menanyai saya dengan banyak pertanyaan. Dan beberapa saat kemudian datang beberapa petugas kepolisi lainnya. Saya melihat ada bapak telah berumur memakai jas dengan rapi, ada yang memakai kemeja dengan postur besar, ada bebrapa yang memakai baju kemaja, dan memakai seragam putih kepolisian. Saya tidak di bolehkan lagi mendekati Almh, saya di bawa kemobil salah seorang petugas, yang belakangan saya ketahui bernama Imad. Saya di minta duduk di bangku depan mobil sedan milik Imad, dan kemudian di introgasi, di preteli dengan banyak pertanyaan. Saya hanya menjawab apa yang di tanyakan. Dari mulai, dari mana, asal Negara, kuliah, tingkat, no hp saya, jenis hp saya dan lainnya. Saya menanyakan Almh ke polisi itu. Mereka hanya bilang dia baik-baik saja.

          Kemudian Imad menyalakan mobilnya. Saya langsung turun dari mobil itu. Dia ingin mengajak saya untuk pergi Gambe untuk melengkapi berkas. Saya menolak, saya katakana saya ingin bersama Almh. Imad membujuk saja dan mengatakan bahwa teman saya akan di tangani oleh petugas polisi dan Ambulance. “jangan takut, kami petugas kepolisian” katanya. Akhirnya saya menyerah dan ikut bersama Imad untuk kembali ke Gambe, dengan niat agar bisa mencari bantuan di Gambe untuk menghubungi pihak kedutaan, PPMI, KMM, dan keluarga. Sebelum berangkat saya meminta Imad berjanji pada saya untuk membawa saya kembali ke tempat Almh. Imad hanya menganggukkan kepala. Dan disanalah saya dan Almh berpisah.

          Di perjalan ke Gambe, petugas kepolisian beserta temannya terus menanyai saya. Saya hanya bisa menangis, dan menanyai keadaan Almh. Mereka menyuruh saya untuk tenang dan berkata Almh akan di bawa ke Rumah sakit. Saya menanyakan rumah sakit apa, mereka hnya diam saja. Setibanya di Gambe, saya mengetuk pintu Gambe, masih dalam keadaan menangis. Tak ada jawaban dari dalam. “Nora buka pintu”, beberapa saat setelah itu terdengar suara dari dalam. “ya, ni”.Pintu rumah juga belum di buka. “Ko siapo?” kata Nora, “ko, ni ika”. “sia tu ni?”, “ko petugas polisi, jan takuik, buka lah”. Petugas itu mengetuk pintu rumah dengan keras. “Nora, jangan takut”, katanya. “Ni, Nora surang di rumah ni”, kata Nora, “Nor, jan takuik, ndak akan do apo-apo do”. Akhirnya pintupun di buka. Nora yang masih terheran-heran menanyakan padaku, “Sia ko ni?, apo nan terjadi ni? Kok uni badarah-darah?”, tanya Nora yang masih kebigungan. “minta ni no Hp Gusty Nor”. Norapun menghidupkan hpnya, dan imad langsung mencatat no hp Almh ke dalam buku catatannya.  Beberapa saat kemudian, Bunga dan IIm pulang dari taraweh. Mereka terheran-heran dengan banyaknya pemuda kepolisian yang berdiri di depan pitu Gambe.

          ___ catatan selanjutkan di ambil dari catatan Bunga, yang menemani Rizqana dari Gambe ke kantor Polisi---

          Selang waktu 2 jam kita berpisah..  Tak ku sangka, pertemuan itu adlah pertmuan trkhir ku denganmu wahai kakanda-ku..
          Kamis, 17 juni pukul 20:15 waktu cairo... Dipertemuan singkat itu kita bertemu..bercengkrama renyah dan berlalu
          Oh iya, aku ingat ada titipan jam utk uni rizqona..segera ku rogoh saku ransel ku...

          "Eh iyo, bunga.. jam uni tingga di alagambe tolong kerekan yo.. Uni tunggu.." pesan almrhumh padaku.

          Bergegas langkah ku menuju rumah. Krna yg ku tau tak lagi bnyak waktu mengingat almrhumah anak buuts..
          "Syukron bunga"(sambil mengambil jam tangannya ddalm kerekan) kata2 terkhir yg ia ucapkan dr bawah flatku seblum ia pergi utk selamnya..
          "Afwan ni".. singkat ku

          Tak ada firsat apa2 kala itu... hanya suara lirih d balik cadarnya. *** 23.30 aku dan iim pulang dr tarawih d mesjid dekat rumah..
          Rumah kami d lantai 3.. Ketika hendak mendaki anak tangga diantara lantai 2 dan 3... Nampak oleh ku..banyak ammu2 mesir di depan rumah kami.. Pikiran melayang..aku menvonis merka adlah perampok yg menggeladah rumah kami..ditambah pintu rumah terbuka lebar..
          Yg melegakan saat itu.. Salah satu dr pemuda mesir itu mempersilahkan-ku utk masuk "Faddol..Faddol.."

          Aku masuk, distu ada uni rizqona yg terisak dgn pergelangan tangan kananny yg d perban dan becak darah di jilbab dan bajunya..

          "Uni....apo yg terjadi?" Sontak dr arah pintu aku langsung mnuju ruang tengah tanpa memperhatikan 2 pemuda mesir yg kala itu sdng sibuk mengintograsi uni rizqona dan mnanyakan hal2 yg berkaitan ttg korban dgn teman rumah ku, nora.
          Stelah selesai mengintograsi.. Polisi kembali membawa korban utk melacak keberadaan si penjahat.. Aku tak bisa tinggal diam..Aku ikut..korban masih shock dgn kejadian ini..

          Sblum mngglkn rumah..pesan ku pada anak rumah. Tolong telpon Ketua PPMI, ketua Kekeluargaan dan suami korban. Sambil memapah ia turun menuju mobil polisi..aku menyakan kebradaan alamarhumah... "Dima ni gusti ni?" "Di Syurga" "Apo maksud uni d syurga? Apo yg tajadi ni? Jalehan ka bunga ni!"

          Ia masih ttp dgn jawabanny yang sama dgn isakan tangisnya.. Aku anggap angin lalu saja..mngkin dia berkata begitu, karna kondisiny yg lemah.
          Ada 2 mobil polisi, kami masuk d mobil polisi sedan yg berwarna silver, awalny mobil ngetem d bengkel depan ronin utk menambah angin ban mobil.
          Setelah itu mobil melaju ke arah mahatoh akhir..  Mulai dr mengitari hay asyir.. memastikan tempat dr mana ia mmberhentikan tramco..sampai mempreteli sopir2 d pangkalan tramco yg menuju arah makrom.

          Mulai dr ketua kmm, senior2 ikhwan KMM telah menghubungi ku..langsung kuberitahukan keberadaan kami. Dan meninggalkan pesan ke setiap yang menelpon, agar segera mencari gusti di sohro' d belakang assalam..

          Aku tak bnyak berkata apa2, Karna batrai hape ku kritis. Bingung, tak dapat ku perbuat bnyak saat itu, selain hanya menemani uni ika mencari pelaku perampokan. Sampai akhirnya kami tiba di suq sayarat, dsitu polisi2 dan beberapa org yg d curigai telah menunggu.. tapi nihil satu pun tdk ada wajah yg mendekati wajah perampok dgn tanda luka yg ada d tangan si perampok.

          Mobil kembali bergerak laju..tak tau akan dibawa kmna.. Rasak takut, pasrah dan aliran dzikir yg mengalir kala itu..
          "Ihna aizin ila makan gusti" Ini yg kami minta2 selama d perjalann.. "Hiya kholas matat"Jawaban polisi enteng..

          Aku menggebu2. Ingin rasanya aku pergi meniggalkan polisi, dan mncari kbradaan almrhumah. Aku masih menganggap jwban polisi hnya sbg ultimatum agar kami bisa diam dan terus melanjutkan pencarian si perampok.

          Mobil melaju kencang, aku pasrah akan d bawa kemana kali ini..hape tak lagi brnyawa.

          Alhmdulilah, ada ikhwan KMM yang menelpon lewat handpone polisi dan mmbri tau kberadaan kami dimn, dan trnyta kami dbawa k qism awal madinat nasr, kantor polisi di bilangan antara awal abas dan city star.

          Ya..sebelum kami mnggalkan rumah gambe, kami minta polisi meninggalkan nomor hapenya.. *** Setelah menunggu seperempat jam d kantor polisi. Pertemuan dgn suami korban dan lanjutan intrograsi2 lainnya.. masih terus berlanjut..
          "Skrng zaman bukan lagi primitif.. Hape yg dicuri..walaupun nonaktif bisa di cari lewat GPS atau nomor seri hape..dan bisa melacak keberaddan penjahat"..itu gumam ku dlam hati, krna melihat polisi2 itu sibuk dgn introgasi2.

          Setelah rasanya aman korban dgn suami dan bberapa ikhwan KMM lainnya di kantor polisi. Kami melanjutkan perjalan mencari almarhumah.. Kami melaju dgn mobil PPMI.. dimana polisi2 disana juga mengaqidkan klu gusti telah tuwufiya sambil cengengesan dan menuliskan alamat dmn kbradaan gusti skrng..
          Ya..masyarahah zainhum di daerah sayyedah aisyah..

          Aku heran, kenapa almrhmah tdk d bawa kerumah sakit terdekat saja. Knapa harus sejauh itu. Didalam perjalanan aku hanya bisa terdiam.. aku masih blum percaya dgn pnjelasan polisi.. ..mungkin saja beliau skrng sedang dalam keadaan kritis..
          *** Jam telah menunjukkan sekitar pukul 02.00 pagi.. Stelah sibuk bertanya kesana kemari dimana masyarahah zainhum.. Memakirkan mobil, melanjutkan perjlnan dgn kaki..berlari mengerjar kerumunan disana.. Yg ternyta sudah ada senior ikhwan KMM yg lebih dulu datang dan ada mobil oren bertuliskan "isAf". Perlahan langkah kaki bergerak pelan, mmandang keadaan sekitar.. Apa yg terjadi, dimana keberadaan gusti, dan knapa masyarah zainhum ini tdk layak dsebut rumah sakit, keadaan sunyi dan dan dan...

          Ternyata masyarahah itu adlah tempat otopsi mayat..aku mulai kalut..
          Dan mulai angkat biacara.. "Baa ustad?" Tanya ku pada Ust. Edi.. Tak berucap sepatah kata pun.. hanya anggukan kepala yg tak ku mengerti..
          Segera ku beranjak mendekati mobil jenazah..meminta sopir agar membukakan pintunya. Awalnya si sopir enggan.."apalagi? Sudah jelaskan memang dia orgny.." Ust edi mencoba mnjlskan karna aku zamilatiha..
          Ketika sopir membuka pintu mobil..perlahan membuka resleting penutup mayat jenazah.. Dsitu doaku semakin kencang,, aku berharap itu bukan uni gusti...


          "Qadaruulah ma syaA faAla.."
          Jilbab yg ia kenakan masih utuh persis sprti pertemuan mnjelang isya tadi.. Hidung dan keningny yg berdarah..matanya yg masih terbuka disaat sakaratul maut.. sepasang matanya memerah.. Karna sopir mobil jenazah tdk berhak menutup mata mayit sampai ia masuk ruang otopsi..

          Aku berharap ini bukan kenyataan.. Tak tau harus kemana kepala ini d topangkan..aku sendirian akhwat..terduduk dan menangis.dunia kelam.terasa berat.menghimpit badan.menusuk tulang belulang.hawa dingin malam pun serasa mencabik2 hati setiap org yg melihat. Secepat itu kah??
          Hanya suara tangisan ku yg terdengar..cepat2 aku berusaha mengontrol diri.berdiri.harus stabil.mencari pinjaman hape agar tmn2 bundo kanduang sgera mngtahui kejadian ini.

          Skenario ALLAH tidak ada satupun yg tau,,, Ajal,mushibah dan segala sesuatunya merupakan kehendak ALLAH ta'ala, Kita sebagai manusia hanya bs berencana..

          وما تدري نفس ماذا تكسب غدا.. وما تدري نفس بأي أرض تموت.. إن الله عليم خبير

          Tdk ada tanda2 ia akan pergi..tapi yg ku dapat cerita dr korban.. Didalam tramco almrhum bercerita ttg natijah..dan mmbhas masalah jodoh, rezeki dan mati itu telah d taqdirkan allah jauh seblum kita d lahirkan di dunia ini...

          ---------------- Catatan dari Rizqana Mursyidah--------------
          Saya yang saat itu masih di kantor polisi di temani suami, dan abg ipar. Saya di suruh membuat mahdor di sana, menjelaskan kronologi kejadian. Polisi menulis dengan catatan tangan, dan akhirnya menyuruh saya menandatanganinya.

          Kami belum di perbolehkan untuk pulang, harus menunggu sampai pagi, untuk melanjutkan ke niyabah – sabi. Bang Fadli (ipar), menelpon anak jambi yang tinggal tidak jauh dari kantor kepolisian itu. Jam 3 dini hari, umah, pia, dan neng datang ke tempat saya, membawakan makanan, serta jaket. Saya yang saat itu masih terdiam, sedih, lemah hanya menjawab apa yang di tanyakan kepada saya. Pia kemudian membersihkan tangan saya yang masih ada bekas darahnya.

          President PPMI beserta rombongan datang ke kantor polisian, menindak lanjuti mahdor yang telah saya buat. Di sana beliau mengakidkan, bahwa Almh sudah tiada. Kesedihan saya makin bertambah, karna saya terus menyakinkan diri saya bahwa beliau akan bisa di selamatkan. Saya meminta untuk bisa menemui Almh, namun saat itu saya di larang untuk ke sana, dengan alasan Almh belum bisa di kunjungi.

          Karena kondisi saya yang semakin tak menentu di kepolisian itu, kami meminta izin untuk pulang, pihak kepolisian tidak mengizinkan saya pulang, kecuali ada yang menjamin saya. Suami saya menjamin saya dengan meninggalkan passport di sana. Dan menyuruh saya ke Niyabah selepas Jum’at.

          Saya hanya ingin pulang, Pia menyarankan untuk ke Rumah Sakit terlebih dahulu. Saya katakan, saya tidak apa-apa. “di lihat aja dulu kak, paling tidak di bersihkan, biar g infeksi”. Kata pia saat itu.

          Kamipun melanjutkan perjalanan ke Rumah Sakit Rob’ah yang tidak jauh dari sana.langsung menuju UGD. Saya langsung di bawa ke ruangan no 5. Perban di tangan di buka. Saya tidak sanggup melihatnya. Baru terasa sakit yang sangat mendalam saat itu. Luka saya di bersihkan, dan di jahit.

          Dengan keadaan yang lemah, kami ke Rob’ah kerumah anak Jambi. Mata tak mampu terpejam, kosong, pikiran tak menentu. Kadang menangis, kadang termenung.

          Sebelum jum’at, bapak kedutaan beserta rombongan datang ke Rob’ah, menjenguk saya, serta menanyakan kronologi kejadiannya lagi. Setelah Jum’at saya di bawa ke Niayabh, di sana sudah banyak yang menunggu. Utusan dari Azhar, dan pihak asrama buuts, wihdah, ppmi, KMM dan lainnya. Di Niayabah pertanyaannya lebih mendetail dari pada di kantor kepolisian. Saya hanya di temani oleh Bg Edi, sebagai penerjemah saya. Di Tanya ciri-ciri pelaku, ciri2 mobil, dan lainnya. Saya harus melengkapi berkas, agar bisa mengeluarkan jenazah Almh dari rumah sakit.

          Kemudian utusan KBRI mengambil surat keterangan pengeluaran jenazah dari kantor kepolisan qism 1, nasr city. Dan melanjutkan perjalanan ke Rumah sakit tempat dimana Almh berada, sedangkan saya di suruh untuk beristirahat di rumah terlebih dahulu.

          Malamnya, kami mendapat kabar bahwa telah ada yang tertangkap. Saya di ke kantor polisi lagi untuk memastikan apakah mereka orangnya atau tidak. Di temani oleh ketua KMM beserta rombongan, dan utusan dari kedutaan, serta pengacara dari kedutaan. Kami ke kantor polisi, keterangan yang kami dapati bahwa pelakunya ada di Syubro.

          Malam itu kami langsung ke kantor polisi Syubro. Saya di bawa ke ruangan salah satu Mabahis di sana. 3 orang tersangka masuk. Saya memperhatikan baik-baik satu persatu dari 3 orang itu. Memperhatikan postur badan, serta tangan yang luka di salah satu dari 3 pelaku tersebut. Mereka keluar, dan mabahis menayakan pada saya, “apa mereka pelakunya”, langsung saya menjawab “Tidak, bukan mereka”. Jauh dari cirri-ciri pelaku yang saya lihat. 2 di antaranya masih umur belasan, yang satunya umur 30an. Dan kamipun pulang.

          19 juli 2014
          Saya mendapat kabar bahwa almh sudah bisa untuk di mandikan. Saya meminta agar saya bisa memandikan Almh. Setelah balik dari RS Heliopolis, kami langsung ke masyarahah zainhum di daerah sayyedah aisyah, saya mendapat kabar bahwa beliau akan di mandikan pukul stengah 3. Masih ada harapan melihat beliau kembali, saya hanya ingin bertemu Almh sebelum keberangkatannya. Setibanya di sana, saya melihat akhwat Bundo kanduang sudah duduk di luar RS. Kami saling berpelukkan satu persatu. tangisan itu tak dapat kami hentikan. “ni, 15 menit yang lalu sudah di masuk peti ni, sudah di paku, dan tidak bisa di buka lagi”, ujar salah seorang adik yang ikut memandikan disana. Kecewa, sedih pastinya, hanya bisa melihat foto Almh di sana, dan peti kayu, yang bertuliskan nama Almh.



          Saat adzan ashar, Almh di bawa oleh ambulance ke mesjid Assalam untuk di sholatkan. Di mesjid asslam ratusan mahasiswa dan mahasiswi sudah menunggu Almh. Almh langsung   di-imami oleh Deputy Grand Sheikh Al-Azhar, Prof. Dr. Abbas Syuman, dan penyampaian tausiah oleh Sekjen Islamic Research Academy, Sheikh Mohammad Zaky Mubarak yang menegaskan bahwa Almh Gusti Rahma Yani adalah seorang mahasiswi yang keluar dari rumahnya menuju Al-Azhar untuk menuntut ilmu, ia meninggal dalam keadaan shahid, seperti yang dijanjikan oleh Allah melalui Hadis Nabi Muhammad Saw. Dan juga di hadiri oleh Dubes beserta rombongan. Banyak tangis berderai, dari awal penyolatan hingga saat kepergian Almh di bandara. Almh berangkat ke Indonesia besok paginya.


          ***********************************
          Ty, masih ku kenang semangat membaramu, dalam menuntut ilmu, dalam beribadah, dalam kebaikan. Ty, hidupmu mulia, begitu juga saat kematian menjemputmu, dengan senyuman engkau tinggalkan dunia ini, untuk kehidupan yang abadi di akhirat nanti. Kehidupan yang indah untuk mu. Ty engkau meninggalkan begitu banyak hikmah untuk  kami. kematian di depan mata, tak membedakan kecil. Muda, ataupun tua. Kapan saja, dimana saja. banyak yang kehilangan sosokmu, banyak yang menangisimu, banyak yang mendoakanmu, dari para ulama besar di mesir, di indonesia, pejabat negara, kami sahabat-sahabatmu, apalagi keluargamu. Syahidah gelarmu, gelar yang tertinggi yang tak semua manusia dapat menyandangnya.


          Semoga kita di pertemukan kembali sahabat….











          Pihak Kedubes Mesir dan KBRI memberikan pernyataan belasungkawa untukmu dan keluarga di kampung halaman, You are the star, Enti Rabi'ah al-adawiyyah fiy el-zamaan ya Habibatiy.
          Do'aku untukmu dik.
          Dirimu memang pulang,
          ingat akan komentar terakhirmu:
          "KAN LAH PULANG PATANG MAH NI, KINI NUNGGU YANG BAWOK PULANG LAI, HAHAHA"
          Ya Rabbi, Sediakan Jannah-Mu untuk adik-ku.











          No comments:

          Post a Comment